Setahun Proyek Conte di London Mengubah Chelsea dan Liga Primer

ibosport

Saat itu, Antonio Conte tengah mendampingi timnas Italia, lebih tepatnya pada 4 April 2016, ketika Piala Eropa masih bergulir, Ia memutuskan sebuah pilihan untuk kembali melatih di sebuah klub. Kerinduan yang tak bisa lagi ditawar, dirinya sangat berhasrat kembali ke rutinitasnya seperti sedia kala, bisa mendampingi tim setiap pekan dalam semusim penuh. Banyak klub yang menyambut hasrat Conte itu, salah satunya adalah AC Milan dan Chelsea yang paling serius. Namun, pilihan jatuh kepada tim yang bermarkas di kota London, Inggris, yakni Chelsea FC milik Roman Abramovich. Satu yang bisa diambil benang merahnya dari keputusan ini, agaknya Conte ingin mencoba petualangan baru di Liga Primer Inggris, yang faktanya merupakan kompetisi paling keras dan kompetitif. Benar saja, saat keputusan sudah dibuat, Jose Mourinho dan Pep Guardiola memutuskan hal yang sama untuk berkecimplung di kompetisi elit Inggris bersama Manchester United dan Manchester City. Belum lagi deretan pelatih hebat yang sudah fasih betul medan persaingan Liga Inggris, Arsene Wenger, Mauricio Pochettino, Juergen Klopp, serta Claudio Ranieri yang sempat mengukir kisah Cinderella di musim sebelumnya. Namun, Conte tak gentar dengan keberadaan pelatih-pelatih tersebut. Awalnya, media Inggris hanya membicarakan persaingan sengit yang akan terjadi antara Jose Mourinho dan Pep Guardiola, mereka berharap tensi El Classico yang keduanya tampilkan saat berkecimplung di La Liga bisa di adopsi ke Liga Primer. Tapi yang terjadi malah berbanding terbalik, sudah dua musim berturut-turut prediksi para pengamat, publik, dan pelbagai media terhadap persaingan Liga Primer melenceng alias tidak ada yang benar. Pada implementasinya, Conte malah tancap gas di podium pertama, sedangkan Guardiola dan Mourinho berkutat di empat besar untuk kemudian membangun kompetisi sendiri; memperebutkan tiket menuju Liga Champions, bukan meraih gelar juara. Sebuah hal yang diluar ekspetasi, karena keluarga Glazer (pemilik United) sudah menginvestasikan dana yang tidak sedikit di skuad Mourinho, pun dengan miliuner asal Timur Tengah yang sudah merogoh koceknya untuk memenuhi tim ideal Guardiola. Roman Abramovich hanya mengeluarkan dana secukupnya, untuk mengembalikan David Luiz dan membawa Ngolo Kante dari King Power serta mendatangkan Marco Alonso, satu nama yang terasa begitu asing. Selebihnya, Antonio Conte yang ditunjuk sebagai allenatore, mengoles pemain muka lama, seperti Eden Hazard, Nemanja Matic, Diego Costa, Cesar Azpilicueta, Pedro Rodriguez dan yang lainnya. Di tambah dengan suntikan strategi dan DNA khas sepakbola Italia; catenaccio. Namun, bukan berarti sistem bertahan selalu bisa dikaitkan dengan sepakbola negatif. Conte memperbarui sistem bertahan dengan catenacio modern, memfokuskan timnya untuk menjaga kedalaman, namun dari sanalah tercipta sebuah keindahan seni yang tiada tara. Conte mempresentasikan pola 3-4-3 sebagai formasi paten. The Great Wall, begitulah publik menyebutnya. Rasa-rasanya, mendeskripsikan Chelsea FC di musim ini tidak akan cukup dimuat dalam satu artikel saja, The Blues musim 2016/17 faktanya bukan saja tentang empat faktor ini; Antonio Conte, pertahanan, Ngolo Kante, dan David Luiz. Ya, mendeskripsikan Chelsea dengan cara tersebut hanya berlaku di awal-awal musim saja, setelah paruh kedua banyak sekali pemain kunci yang absen karena cedera ataupun hukuman. Pada akhirnya, Chelsea pernah merasakan bermain tanpa Kante, tapi Conte punya solusi lain dengan memasang duet Matic-Fabregas. Pun ketika David Luiz tidak bisa tampil Conte selalu punya cara untuk menang! Selain, nama-nama pemain yang masuk di era Conte, Eden Hazard dan Diego Costa merupakan sosok vital yang paling konsisten dibawah arahan Conte. Eden Hazard sebagai peraih penghargaan Goal of the Month pada Februari 2017 lalu merupakan tumpuan serangan bersama Pedro Rodriguez disebelah kanan, untuk menopang striker tunggal Diego Costa. Hazard dibawah polesan Conte mengeluarkan kemampuan terbaiknya,sampai-sampai beberapa pengamat sepak bola Eropa menyetarakan dirinya dengan sang mega bintang Lionel Messi. Gocekan mautnya yang menusuk ke area kotak penalti kemudian memberikan umpan manja kepada Costa atau terkadang menyelesaikannya sendirian selalu diperlukan bagi tim yang mengadopsi strategi bertahan macam Chelsea. Hazard selalu berhasil menggembrak via serangan balik cepat. Termasuk pada pertandingan terakhir kontra Manchester City di Stamford Bridge, Hazard membuat kiper Willy Caballero tak berdaya dengan aksi-aksinya. Ia menceploskan dua gol melalui set play dan satu tendangan penalti yang hampir gagal. Kecepatan, kelincahan, dan ketepatan menjadi tiga unsur utama pemain asal Belgia ini dalam membangun serangan efektif yang di inginkan Antonio Conte. Setelah mengamati secara seksama kepelatihan Conte dalam setahun di Chelsea, izinkanlah saya mengajukan sebuah hipotesis. Pertahanan yang kuat adalah kunci memenangkan pertandingan, karena menyerang itu naluriah.Jika dijabarkan, Conte lebih mementingkan tembok pertahanan yang kokoh dan berharap lawan frustasi membongkar pertahanan Chelsea yang rapat atau bisa menunggu lawan melakukan kesalahan elementer. Kemudian, urusan menyerang sudah dipercayakan kepada Hazard dan Costa yang secara naluriah sudah paham betul bagaimana cara mengefektifkan serangan menjadi peluang, dan peluang menjadi gol. Meskipun dalam menata serangan lebih mengandalkan naluriah, Conte tidak ingin terburu-buru melakukan umpan panjang ke depan saat melakukan serangan balik. Keindahan terletak pada saat Kante, Hazard, Costa menyentuh bola. Chelsea tak ubahnya klub Italia yang kaya akan teknik, dan Primer League saat Chelsea bermain seperti berubah menjadi Liga Serie A, yang ketika Conte belum bertugas di Chelsea sepak bola Inggris masih familiar dengan permainan tergesa-gesa. Conte tidak hanya mengubah Chelsea itu sendiri, namun sudah mengubah pemikiran pelatih-pelatih di Inggris dengan maraknya penggunaan formasi klasik 3-4-3. Conte bukan saja bisa meneruskan tongkat kesuksesan pelatih asal Italia yang di musim sebelumnya sukses bersama Leicester City, Ia juga bisa membangun dinasti yang kokoh di London yang menjadikan Chelsea sebagai klub tak tertandingi, tentu berbekal pengaruhnya terhadap kesebelasan-kesebelasan lain dan pelatih-pelatih lain di Liga Primer yang mulai terlihat sekarang ini. Conte telah meletakan batu pertama dalam proyeknya di London sebagai fondasi masa depan klub Chelsea, bisa saja hasilnya bukan sekadar bangunan kokoh, melainkan gedung tinggi tak ubahnya Bayern Munchen di Jerman atau pun Juventus yang sudah Ia bangun di Italia.

ankaraeskortr.com ibosport Sumber: Kompasiana